Our Love Story: Perjalanan Satu Dekade Menuju Pelaminan
Halo, selamat datang di tulisan pertama dalam blog sederhana ini. Saya memberi judul tulisan ini "Our Love Story". Mungkin terdengar seperti judul drama romantis, namun ini bukanlah skenario film, melainkan kisah nyata perjalanan saya bersama suami saya, Ulfan.

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Bayangkan, kita melewati perubahan zaman bersama-sama hingga saat ini. Saya ingin membagikan kisah ini dengan santai agar Anda nyaman membacanya. Silakan menikmati tulisan ini sembari menyesap kopi atau teh.
Sebelum memulai, izinkan saya menyapa sosok yang telah mewarnai hidup saya
Sayang, terima kasih atas segala dedikasimu. Janji setia yang kamu ucapkan di bawah pohon kampus dulu ternyata bukanlah sekadar kata-kata manis belaka. Aku sangat menyayangimu, suamiku.
Mari kita ulas bagaimana perjalanan cinta kami bermula, bertahan selama satu dekade, hingga akhirnya resmi bersatu di pelaminan. Sabar ya, perjalanannya cukup panjang namun saya jamin penuh makna
Awal Mula: Juli 2013 di Kampus Biru yang Jadi Titik Nol
Semuanya dimulai pada Juli 2013 di Kampus Biru, Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGo). Pertemuan pertama dengan Ulfan terasa biasa saja, layaknya bertemu teman baru di kantin yang sedang mengobrol soal tugas kuliah.
Saat itu, ia tampak sederhana dengan perawakan yang kurus, sementara saya sibuk dengan buku catatan kuliah yang penuh coretan. Siapa sangka, pertemuan yang tampak kebetulan tersebut menjadi pembuka babak panjang dalam hidup saya. Ia akhirnya menjadi jawaban atas pencarian sosok pendamping hidup yang lebih seru dari novel terbaik sekalipun.
Jadian: Oktober 2013, Kejutan yang Berkesan
Dua bulan berselang, tepatnya pada Oktober 2013, Ulfan menunjukkan kesungguhannya. Bukan dengan nyanyian meskipun ia gemar bersenandung lagu random, melainkan dengan menyatakan perasaannya secara tulus.
Di bawah pohon besar dekat perpustakaan kampus, di tengah hembusan angin yang tenang, ia berkata, "Aku suka sama kamu, serius." Kejujurannya membuat saya tertegun. Tidak hanya kepada saya, ia bahkan berani menemui orang tua saya untuk menyatakan keseriusannya. Sikap ksatria dan gentle itulah yang membuat hati saya luluh, dan sejak saat itu, kami resmi memulai hubungan.
Perjalanan Penuh Warna: 10 Tahun yang Tidak Selalu Mulus
Menjalani hubungan selama sepuluh tahun ibarat meracik kopi spesial; ada rasa manis, pahitnya realita, hingga momen tak terduga. Di masa awal, kami melewati banyak dinamika, mulai dari rasa cemburu akibat kesalahpahaman tugas kelompok hingga rasa kesal karena pesan yang lambat dibalas.
Banyak kenangan tak terlupakan, seperti momen jenaka saat menonton film horor di mana Ulfan justru menutup mata dengan jaket. Namun, tak hanya tawa, ada pula air mata. Pada tahun 2017, kami sempat menghadapi perbedaan pandangan yang cukup besar terkait prioritas masa depan. Namun, kesabaran dan komunikasi yang baik selalu menjadi penutup luka dan membuat kami tetap bertahan menghadapi segalanya.
Tantangan Nyata: Jarak dan Waktu yang Menguji
Ujian sesungguhnya datang pada tahun 2019 ketika kami harus menjalani hubungan jarak jauh (LDR). Ulfan bekerja di kota lain selama setahun, yang menuntut kesabaran tingkat tinggi. Komunikasi hanya bisa dilakukan malam hari dan sering terkendala sinyal buruk.
Saya ingat betul saat ia pulang untuk pertama kalinya, saya menunggu di terminal dengan membawa pisang goreng kesukaannya. Meskipun ia tampak lebih kurus, senyumnya tetap sama—senyum yang meyakinkan saya bahwa kami akan kuat melewati ini. Dan benar saja, kami berhasil melampaui ujian tersebut.
Menuju Pelaminan: Agustus 2023, Cinta yang Merdeka
Setelah sepuluh tahun bersama, pada Agustus 2023, kami memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan sesuai sunnah Rasulullah SAW. Akhirnya, pada hari Rabu, 16 September 2023, di tengah musim kemarau (polodulahe, kata orang Gorontalo), kata "SAH" akhirnya terucap.
Rasanya sangat lega, seperti mencapai garis finish setelah perlombaan panjang. Setelah akad, kami sempat duduk di teras rumah menikmati suasana haru dan romantis. Saya bahkan sempat mulai menulis catatan ini sambil sesekali melirik Ulfan yang sedang sibuk dengan ponselnya—entah sedang merencanakan bulan madu atau hal lainnya!
Hari Bahagia: Resepsi yang Bikin Hati Bergetar
Resepsinya benar-benar spesial dan tak akan terlupakan. Kami duduk di kursi krem empuk dengan dekorasi yang mewah namun elegan. Backdrop di belakang kami penuh dengan bunga putih, hijau, dan biru, disorot lampu biru-ungu yang menciptakan suasana magis seperti di film romansa.
Lampu kristal yang berkilauan di atas kepala seolah menjadi saksi malam itu. Saya mengenakan gaun putih keemasan yang membuat saya merasa seperti putri, berdampingan dengan Ulfan yang gagah dengan setelan kuning emas. Banyak tamu yang mendoakan kebahagiaan kami, menambah kehangatan suasana malam yang diiringi musik lembut dan aroma hidangan tradisional Gorontalo.
Our Wedding Reception
Penutup: Catatan dari Hati yang Penuh Syukur
Saya ingin memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah membimbing langkah kami hingga ke titik ini. Terima kasih kepada orang tua yang selalu mengingatkan, keluarga, tetangga, serta sahabat yang telah membantu menyukseskan acara kami dari persiapan hingga dekorasi yang indah.
Kami memohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam penyelenggaraan acara ini karena kesempurnaan hanyalah milik-Nya.
Sepuluh tahun bersama Ulfan mengajarkan saya bahwa cinta itu bukan hanya soal bunga dan cokelat, tetapi tentang saling menggenggam tangan saat jatuh, saling mengingatkan, dan tetap bernyanyi bersama meski nada kehidupan tidak selalu sempurna.
Semoga cerita ini menjadi kenangan manis dan inspirasi bagi Anda yang sedang menanti momen bahagia bersama pasangan. Tunggu cerita kami selanjutnya, mungkin tentang bulan madu atau rencana masa depan lainnya. Terima kasih! 🙏
Posting Komentar untuk "Our Love Story: Perjalanan Satu Dekade Menuju Pelaminan"
Posting Komentar